Sianida Bisa Rusak Ribuan Hektare Terumbu Karang di Sulut, Pemerhati: Awasi Penjualan dan Pendistribusiannya

Manado, MYMC- Pesona bawah laut Sulawesi Utara (Sulut) teutarama terumbu karangnya nan cantik dan eksotis dianggap tak pernah habis diperbincangkan dan dijelajahi. Pesonanya ini sampai ke berbagai belahan dunia.

Betapa tidak, Sulut yang sebagian wilayahnya merupakan lautan itu punya sekitar 18.439,75 hektare terumbu karang.Keindahan terumbu karang itu menjadi daya tarik wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Semua wisatawan memiliki cerita yang sama soal hamparan terumbu karang yang cantik dan eksotis di bawah perairan lautnya itu, terutama di Pulau Bunaken.

Karena terumbu karangnya yang memesona itu, Bunaken disebut-disebut sebagai salah satu obyek wisata bawah laut terbaik di dunia. Berdasarkan data Gerakan Cinta Bahari (GCB), ada kurang lebih 390 spesies terumbu karang yang menghiasi perairan Bunaken.

Lokasi ini makin indah karena kemunculan beragam spesies ikan, mamalia laut dan reptile. Itu belum termasuk spesies burung dan mangrove yang hidup di atas perairannya.

Terumbu karang di perairan Sulut (ist)

Tapi, GCB dan sejumlah organisasi serta aktivis pencinta lingkungan kini was-was. Mereka takut terumbu karang nan eskotis itu rusak dan punah karena penjualan dan penggunaan  sianida diluar kontrol serta tak sesuai standard atau peruntukan.

Ya, belakangan ini masuk sianida dari luar Sulut yang packing atau kemasannya tak sesuai standar. Ini terkuak saat aparat melakukan operasi dan mendapati ada oknum pengusaha yang mau mendistribisukan sianida dalam kemasan plastik. Kemasan itu kemudian dimasukan dalam karung.

“Demi mengelabui petugas, sianida itu hanya terbungkus dengan karung. Sudah jelas ini tak sesuai standar,” ucap Yermia Kantohe, Sekretaris  LSM Pesisir Sulut kepada wartawan di Manado.

Yermia dan kawan-kawan mengkhawatirkan sianida itu akan dijual ke kapal-kapal penangkapan ikan dan pengusaha pertambangan di Sulut. “Jika seperti itu, ekosistem bawah laut kita, terutama terumbu karang yang kadung kesohor ke berbagai belahan dunia itu akan rusak,” ucapnya.

Kekhawatiran akan rusak dan punahnya terumbu karang di Teluk Manado dan perairan Sulut lainnya juga menjadi topik bahasan puluhan warga yang tergabung dalam organisasi GCB yang diketuai Mejkel Lela. Mejkel Cs tak ingin nasib terumbu karang di bawah laut Sulut sama dengan Laut Makassar.

“Terumbu karang yang dulu bersemi indah di laut Makassar  kini rusak karena penggunaan sianida yang tak terkontrol dan luput dari pengawasan. Kami dari Gerakan Cinta Bahari atau GCB tak mau itu terjadi di Teluk Manado dan peraian lainnya di wilayah Sulut,” kata Mejkel.

Mantan pembantu dekan bidang kemahasiswaan pada salah satu perguruan tinggi ternama di Sulut ini menyebut terumbu karang sebagai salah satu sumber kehidupan dan aset berharga bagi daerah Nyiur Melambai yang harus dijaga. “Kita perlu untuk menjaganya dengan membiasakan diri memulai kebiasaan hidup ramah lingkungan,” ujar Mejkel.

Menurut dia, rusaknya terumbu karang sangat berpengaruh terhadap ekosistem laut. “Jumlah ikan pun semakin menurun. Tanpa disadari, kita kembali kehilangan warisan penting bagi anak-cucu,” ungkapnya.

Sementara pemerhati lingkungan Jack Sumerar meminta pemerintah dan aparat bergerak cepat mengawasi peredaran sianida, zat berbahaya yang terbilang mematikan. Hal itu diperlukan agar sianida tidak disalahgunakan.

“Telisik izinnya, jangan sampai tak berizin atau hanya mengantongi izin dari provinsi lain lalu dijual dan didistribusikan ke Sulut. Awasi juga siap yang beli, alamatnya di mana dan lembaga atau individunya siapa,” Jack memaparkan.

Alumnis Fakultas Ekonomi Unsrat itu menyarankan pemerintah, khususnya dinas perdagangan untuk mengontrol peredaran sianida secara konsisten. “Pengawasan harus berkesinambungan,” katanya. Berdasarkan Permendag No 75/M-Dag/Per/10/2014 dan SK Mendag 47 tahun 2019 mengenai pengawasan pendistribusian bahan berbahaya, pengawasan dilakukan oleh Kemendag, Badan POM, dinas provinsi dan kabupaten/kota, serta instansi terkait lainnya. (ags)

Author: Redaksi MyManado

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *