Virus Corona Ancam Sulut, Pemerintah Tolak Permintaan Stop Kunjungan Wisman China

Manado – Serangan virus mematikan di Cina jadi isu hangat di Sulut. Daerah berjuluk Nyiur Melambai ini memang banyak kedatangan turis dari Cina.

Tahun 2019, dari data Pemprov Sulut, sekitar 111.000 turis asal Cina yang melancong ke Sulut.

Arus kedatangan Turis Cina ke Sulut juga belum berhenti, meski virus Corona merebak di Negeri Tirai Bambu.

Didi Roa, Pegiat Media Sosial yang juga Warga Kota Manado mengatakan, wajar jika ada kekhawatiran dengan muncuknya Virus Corona ini.

“Masalahnya wajar kita sebagai warga manado takut virus ini berkembang sangat cepat dan hingga saat ini belum ada obatnya, torang kan kedatangan banyak sekali turis dari Cina sementara virus berasal dari sana,” ujar Pengusaha UKM asli Manado ini.

Ia tahu, pemerintah sudah berupaya se maksimal mungkin untuk melakukan tindakan pencegahan dengan fasilitas.

Sepengetahuannya di bandara ada alat deteksi suhu tubuh manusia

“Tapi kita pikir itu belum maksimal, negara secanggih Cina sendiri dorang so isolasi dorang pe warga dan menutup pintu masuk turis supaya tidak menyebar ke mana mana,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi saat ini tindakan pencegahan yang paling tebat adalah dengan menutup sementara Kota Manado atas kedatangan Turis dari Cina. “Itu yang lebe maksimal,” kata dia.

Didi mengatakan, jika situasi membaik, virus sudah ada obatnya, penerbangan dari Cina dibuka kembali.

Anyo Lengkong, Pengunjung Jalan Roda menganggap masalah virus Corona baginya hal yang tak terlalu risau.

Seharusnya warga tak perlu panik karena ia yakin pemerintah sudah melakukan penanganan yang komprehensif.

“Janganlah warga Sulut menjadi menjadi panik akan Virus ini karena saya yakin pemerintah telah melakukan antisipasi hal ini dan sementara berupaya,” ujar Lengkong.

Sutjipto Noho, penikmat Kopi di Jalan Roda mengatakan banyaknya turis Cina yang mendatang ke Manado ini dan sangat memberikan keuntungan di dunia Pariwisata. Tak perlu sampai penerbangan dari Cina dihentikan.

“Maka dari itu selaku saya merupakan warga kota Manado ini, memintakan kepada pemerintah dan yang terkait dalam penanganan Virus ini untuk lebih serius ,”ujar Noho.

Pemerintah Provinsi Sulut pun belum berniat menghentikan sementara kedatangan turis cina ke Provinsi Sulawesi Utara di tengah gempuran Virus Corona yang menewaskan warga di Wuhan, Cina,

Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Henry Kaitjily mengatakan, situasi Sulut tetap aman meski ada kedatangan turis dari Cina.

Dasarnya, Turis Cina yang datang ke Sulut tidak berasal dari Wuhan

“Tidak ada penerbangan ke Wuhan, Kenapa mesti resah?,” kata dia.

Selain itu, pemerintah RI juga belum mengeluarkan statement soal penutupan penerbangan dari Cina.

“Pemerintah juga kan menilai, belum ada pernyataan resmi juga,” ujar dia.

Ia menjelaskan, memang sejumlah negara, menutup penerbangan, tapi hanya khusus ke Wuhan.

Semisal Hongkong ada dua kasus suspect Virus Corona, begitu juga Korsel ada satu kasus suspect Virus Corona.

Pemerintah optimistis Virus Corona tak akan menyebar di Sulut, langkah antisipasi sudah dilakukan.

“Langkah pengamanan sudah ada, dinas kesehatan, KKP sudaah ambil langkah. Agen travel juga antisipasi, dicek dulu, kalau sakit tidak bisa bepergian,” ungkap dia.

Ia mengatakan, pemerintah jangan salah bertindak, karena dampaknya besar.

“Jadi intinya semuanya aman terkendali, tidak ada kasus di sini (Sulut) tidak perlu resah,” kata Mantan Kepala Dinas Penanaman Modal
itu.

Tahun 2019, Turis asal Cina yang datang ke Indonesia sekitar 2,2 juta orang. Sulut kebagian 111.000 orang.

“Provinsi lain saja yang lebih banyak turisnya masih tenang-tenang saja,” ujarnya.

Ditegaskannya, jangankan turis Cina di Sulut, terdapat 93 WNI di Wuhan, dalam keadaan aman.

Ia hanya menegaskan, jangan sampai isu-isu seperti itu mengganggu iklim pariwisata yang sudah dibangun lama.

“Stay calm and allert, jangan larinya ke lain-lain. Contoh lalu diangkat Terorisme, kasusnya di luar, ributnya di dalam,” ujarnya.

Sementara, Executive Chef Hotel Ibis, Arther Kalendesang mengaku jumlah pengunjung yang menginap di hotelnya di dominasi wisatawan dari Cina.

Ia berharap pemerintah bisa mengambil langkah pencegahan namun tidak dengan menutup akses wisatawan ke Manado.

Saat ini lanjutnya, wisatawan Cina yang menginap di hotel Ibis berjumlah 20 orang.

“Karena mereka juga turut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Manado juga,” kata Arther saat ditemui di hotel, Minggu (26/1/2020).

Terkait pencegahan kata Arther, salah satunya dengan menyediakan clean and sanitize untuk mencegah.

Langkah dilakukannya hanya pada pencegahan penyebaran dari tangan ke tangan.

“Kalau mereka berjabat tangan itu bisa terhindar juga,” jelasnya. (tim)

Author: Redaksi MyManado

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *